Life

Suram

Maan Ali

Dia menyerukan hilangnya sang anak, yang entah pergi kemana dibawa segerombolan orang yang datang di suatu malam, dengan pakaian serba hitam tanpa lencana, yang datang tanpa ketukan, malah menggebrak pintu dengan keras sehingga istrinya terlonjak bangun, ditelan kekagetan yang berlanjut dengan hati mencelos takut. Dia belum sempat menenangkan sang istri ketika mendengar teriakan dari kamar sang putra, yang terdengar penuh kesakitan dususul suara darah terciprat, yang genangannya memenuhi ruang tamu, menjejakkan fakta pilu bahwa sang putra diseret keluar, oleh para bajingan berkedok penjaga keadilan.

Cih! Bekingan pemerintah.

Muram dan penuh kesakitan di wajah sang putra adalah hal terakhir yang dilihatnya, yang sekuat tenaga ingin dilupakan, namun selalu membayangi tiap detiknya ketika Ia melangkahkan kaki di seantero rumah, kembali pada kenyataan bahwa sang putra hilang dibawa keparat-keparat gila, yang berdekade-dekade kemudian dengan ringan mengaku melakukan pembunuhan sambil menari cha-cha, minum bergelas-gelas anggur, lalu menggorok leher sang tahanan politik, yang dituduh anti pancasila berpanji palu dan arit.

Bajingan gila bertopeng kemanusiaan.

Belasungkawa tidak pernah datang, karena Ia bersikeras sang putra masih ada, sehat walafiat, dan akan selalu ada di hati dan di tiap napas pergerakan perjuangan.



Leave a Reply

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!