Life

Narasi Akhir Zaman dan Terorisme, Bagaimana Doktrin Soal Perang Tiada Akhir Mendorong Aksi Teror

Aparat Keaman Mengamankan Tempat Kejadian Perkara Paska Aksi Teror di Kota Surabaya (2018)

Hari itu Minggu pagi, 13 Mei 2018, Kota Surabaya baru saja bergeliat memulai aktivitasnya. Namun, hari tersebut berbeda dengan hari-hari biasanya, berbagai serangan aksi terorisme terjadi dalam kurun waktu berbeda hingga hari Senin pagi, 14 Mei 2018. Banyak korban jiwa yang diakibatkan oleh aksi biadab tersebut, dan yang menyedihkan dari hal tersebut, pelaku pengeboman melibatkan anggota keluarganya sebagai pelaku aksi teror, bahkan anak kecil serta wanita sekalipun. Jamaah Anshar Daulah, sebuah organisasi underbouw gerakan teror Islam Radikal ISIS/DAESH mengklaim sebagai penggagas aksi teror tersebut.

Seketika kita berpikir, bagaimana bisa mereka memiliki niatan buruk untuk melakukan aksi teror, dan mengapa sampai anak kecil dan wanita ikut menjadi “alat” mereka. Untuk itu kita perlu melihat dulu motivasi dan cara berpikir mereka yang menjadi dasar melakukan tindakan biadab tersebut

Radikalisme Islam di Indonesia

Indonesia sebenarnya telah lama “akrab” dengan gerakan radikalisme Islam bahkan ketika masa pergerakan menuju kemerdekaan. Munculnya gerakan pemberontak DI/TII di Jawa Barat oleh Kartosuwiryo didorong oleh ketidakpuasan akan perjanjian Renville dimana pemerintahan Soekarno-Hatta telah mengkhianati perjuangan umat Islam dan keinginan pribadi Kartosuwiryo mendirikan Negara Islam (Darul Islam) berdasarkan interpretasi hukum syariah yang keras di Indonesia.Gerakan DI/TII melancarkan berbagai aksi teror ke masyarakat bahkan pernah sekali melakukan serangan yang mengacam nyawa Presiden Soekarno. Hal tersebut dikarenakan DI/TII menerapkan asas perang dan interpretasi syariah garis keras. Gerakan DI/TII ini berlangsung cukup lama hingga baru berhasil ditumpas pada tahun 1962. Namun dasar pemikiran DI/TII tidak pernah berhasil dihilangkan, bahkan kembali muncul pada era Orba. Pada masa orba, penyeragaman ideologi politik yang dilakukan rezim saat itu memunculkan ketidakpuasan bagi sebagian kalangan Islamis berbasis politis, sehingga memunculkan berbagai sel-sel aksi terror seperti yang terkenal adalah Komando Jihad yang melakukan pembajakan pesawat Woyla pada tahun 1982. Paska peristiwa 9/11 di Amerika Serikat dan invasi Afghanistan & Iraq di awal dekade 2000, memunculkan gelombang radikalisme baru, dipelopori oleh para jihadis asal Indonesia yang bertempur di Afghanistan dan daerah konflik lainnya, mereka secara terlatih melancarkan aksi teror diberbagai daerah di Indonesia (seperti aksi pengeboman di Kuta 2002, yang memakan korban hingga 202 orang) serta ikut mendorong terjadinya konflik horizontal seperti konflik Poso dan konflik Ambon. Lalu munculnya ISIS/DAESH di Timur Tengah mendorong munculnya radikalisme ke arah yang lebih ekstrim di Indonesia dan serangan model baru seperti peristiwa penembakan dan pengeboman di Sarinah di Jakarta

Dasar Narasi Agama Yang Mereka Gunakan

Untuk memberikan legitimasi daripada aksi mereka, para pelaku aksi terror menggunakan berbagai metode dan diskursus keagamaan yang berdasarkan kitab suci. Salah satu prinsip yang dipakai adalah Itjihad yaitu mekanisme penggunaan hukum Islam yang ditetapkan didalam kitab suci berdasarkan interpretasi pribadi, dalam aliran Islam arus utama (Ahlu-Sunnah Wal Jamaah) penggunaan Itjihad itu dijustifikasi namun terbatas kepada ahli-hukum agama yang terlatih, namun bagi para radikalis , setiap orang bebas mengintepretasi dalil-dalil keagamaan tanpa perlu dasar keahlian yang kuat. Hal tersebut menyebabkan munculnya penggunaan dalil kitab suci tanpa konteks dan dimanfaatkan secara politis oleh kepentingan kelompok ataupun individu

Narasi Akhir Zaman

Berdasarkan narasi keagamaan, bagi para radikalis, keadaan di dunia di masa modern sangatlah jauh dari bayangan utopis yang diyakinin. Mereka melihat bahwa institusi-institusi pemerintahan modern itu korup dan telah terpengaruhi oleh budaya asing (Thagut) yang tidak sesuai dengan apa yang telah diturunkan oleh ajaran agama (Kuffar). Selain itu norma-norma sosial dan gaya hidup modern yang telah berlaku dimasyarakat sangat jauh dari cita-cita mereka. Oleh karena itu untuk meruntuhkan tatanan yang ada memerangi institusi “Thagut” dan masyarakat “Kuffur” merupakan perintah Tuhan yang tidak boleh diabaikan sekalipun. Bagi mereka terbentuk sebuah narasi akhir zaman dimana ummat secara garis besar mengalami penurunan moral dan “Jihad” ataupun tugas suci ini termasuk menyerang anggota masyarakat yang tidak sepaham, sekalipun mereka seorang muslim moderat taat sekalipun karena bagi mereka muslim moderat yang tidak ikut kepercayaan mereka termasuk dalam katagori “munafik” yang patut diperangi. Mereka yakin dunia harus dimurnikan kembali secara total sebelum datangnya akhir zaman.

Doktrin Perang Total

Oleh karena itu berlakulah doktrin “Perang Total”, dimana mereka tidak mengakui adanya batasan antara pihak sipil (dalam hal ini adalah masyarakat biasa dalam berbagai latar belakang sosial) dan pihak Aparat Kemanan(dalam hal ini adalah pihak-pihak yang mewakili institusi pemerintahan seperti polisi dan tentara). Aksi terror dapat dilakukan ditempat penuh warga sipil sekalipun ditempat tersebut kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak maupun melawan institusi hukum yang berlaku. Dalam doktrin ini, mereka percaya bahwa semua pihak yang sealiran dalam mereka wajib untuk berkontribusi dalam melakukan serangan ke lawan mereka dan tak ada sekalipun sanksi dan etika moral yang membatasi mereka. Sekalipun menggunakan anak-anak dan wanita sebagai pelaku serangan teror. Karena bagi mereka, efek psikologis dan shock therapy merupakan tujuan akhir yang harus dicapai. Di Indonesia, aksi teror Surabaya 2018, merupakan kali pertama bahwa aksi teror dilakukan oleh pelaku anak kecil. Sebelumnya di kawasan timur tengah, para teroris telah terlebih dulu menggunakan anak kecil dan wanita sebagai pembom bunuh diri. Secara strategis, hal ini dilakukan teroris untuk mendapatkan peluang keberhasilan aksi teror yang lebih tinggi karena para aparat keamanan mengalami pilihan sulit dalam melakukan penindakan dan pencegahan karena tersandera oleh SOP yang dimiliki, selain itu dampak psikologis terhadap pihak keamanan yang ditimbulkan akan lebih tinggi dibanding metode konvensional yang digunakan dari dahulu

Simpulan

Para simpatisan aksi terror memiliki pandangan yang berbeda terhadap keadaan dunia di masa modern. Mereka memiliki keyakinan bahwasannya dunia sedang dalam keadaan perang, sehingga standar etika dan norma yang berlaku dianggap invalid atau cacat. Oleh karena itu mereka berani melakukan tindakan teror ke pihak sipil serta menggunakan berbagai cara termasuk melibatkan anak kecil sebagai alat teror. Parahnya mereka menggunakan dalil-dalil keagamaan yang secara awam yang tidak punya keahlian hukum agama dapat dijustifikasi. Perlu adanya keterlibatan lebih jauh dari institusi agama untuk ikut membantu melakukan penanggulan aksi teror, terutama dari sisi edukasi serta mau tidak mau harus mengakui bahwa terdapat problem inheren dari metode pengajaran agama yang menyebabkan orang mudah teradikalisasi

Leave a Reply

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!