Life

CITARUM ZAMAN NOW SUDAH HARUM, NAMUN SUDAH BISAKAH DIMINUM

Oleh : Nadhifa Sofia

(By Facebook : Nadhifa Sofia)

Deddy Mizwar pernah mengoper kebijakan mengenai Sungai Citarum sebagai kewajiban Pemerintah Pusat, tidak hanya pada Pemerintah Daerah di Kabupaten Bandung maupun Provinsi Jawa Barat. Beliau saat Debat II Pemilihan Gubernur Jawa Barat di Balairung Universitas Indonesia pada 14 Mei 2018 lalu menyatakan, “Badan Sungai Citarum itu urusan Pemerintah Pusat, bukan urusan Provinsi maupun Kabupaten”. Namun, seharusnya kebijakan mengenai Sungai Citarum tidak dioper begitu saja karena Sungai Citarum milik semua. Bank Pembangunan Asia memeperkirakan terdapat sekitar 28 juta jiwa bergantung hidup secara langsung pada sungai yang terpanjang dan terbesar di Tatar Pasundan Provinsi Jawa Barat, Indonesia ini. Serta terdapat 500 pabrik yang berdiri di sekitarnya dan tiga waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dibangun di alirannya.

Gambar 1. Pengunjung yang mengabadikan momen pada keindahan surge Kilometer 0 Citarum di Citarum Hulu

Secara etimologi, Citarum terdiri dari dua kata, yakni Ci atau ‘Cai’ nan berasal dari Bahasa Sunda yang berarti sungai dan Tarum yang merupakan tanaman penghasil warna nila karena dulu terdapat banyak tumbuhan tarum di sepanjang Citarum. Citarum mengaliri Provinsi Jawa Barat sepanjang 269 km dengan Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang sebagai hulunya yang bermuara di Laut Jawa[1]. Citarum memiliki 12000 km2 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengaliri Provinsi Jawa Barat dan sekitar. Citarum mengaliri tiga bendungan, yakni Saguling, Cirata, dan Jatiluhur yang mampu menghasilkan listrik sebesar 1400 MegaWatt dan didistribusikan di Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Gambar 2. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum

Potensi sumber daya air Citarum hanya bisa dimanfaatkan sekitar 58% saja. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi namun tidak disinkronisasikan dengan perencanaan dan pengelolaan Citarum. Fokus permasalahan ini dibagi menjadi permasalahan di Citarum Hulu, Citarum Tengah, dan Citarum Hilir. Masalah di Citarum Hulu disebabkan oleh penggundulan hutan, pengelolaan permukiman yang tidak baik hingga menurunkan fungsi kawasan hutan lindung, eksploitasi air tanah di daerah perkotaan menyebabkan penurunan muka air tanah sebanyak 5 m/tahun sehingga daerah sekitar Citarum Hulu mengalami kekeringan air tanah, penurunan kualitas air yang disebabkan oleh limbah. Hanya sedikit pabrik yang melakukan instalasi pengolahan limbah kimia ini dikarenakan biaya pengolahan limbah yang tidak murah. Tarif jutaan rupiah yang dikeluarkan pabrik membangun pengolahan limbah yang representatif menjadi alasan para pemilik perusahaan enggan membangun instalasi pengolahan limbah. Rata-rata pabrik mengeluarkan limbah kimia pabrik sebanyak 280 ton/hari. Pengelolaan sampah masyarakat dan kurangnya kesadaran masyarakat sekitar Citarum Hulu mengenai pentingnya kebersihan juga menyebabkan peningkatan lembah sungai. Selain itu, pencemaran oleh limbah kotoran 29.000 ekor sapi dari 7.000 peternak menghasilkan limbah kotoran sapi sebesar 400 ton/hari. Hal tersebut yang menyebabkan Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia pada tahun 2007.

Sedimentasi di Citarum Tengah yang disebabkan oleh erosi dan sampah dari Citarum Hulu akan mengakibatkan kerusakan instalasi PLTA di Saguling. Sebanyak 250.000 m3/tahun sampah padat telah berhasil diangkut di waduk tersebut. Selain itu, sedimentasi ini dinisialisasi sebagai pemanfaatan Citarum yang tidak optimal diperparah oleh sampah padat dan pemberian pakan ikan yang mengendap di dasar sungai.

Pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi di Citarum Hilir menyebabkan pergantian lahan hijau menjadi kawasan permukiman dan perindustrian. Kurangnya kesadaran masyarakat dan kurangnya pengolahan limbah kimia bisa menyebabkan terjadinya banjir jika daerah tersebut diguyur hujan lebat. Pencemaran lingkungan air akan meningkatkan permukaan air sungai, sehingga ikan yang ditambak akan lepas serta nelayan akan merugi jika ikannya mati akibat pencemaran air. Kurangnya perilaku dalam pembudayaan hidup bersih untuk mencegah akibat langsung kotoran dan bahan buangan berbahaya alias sanitasi mengakibatkan masyakat sekitar Citarum terjangkit penyakit kulit dan diare. Belum lagi saat kemarau, irigasi untuk sektor pertanian yang berkurang yang menyebabkan tidak semua petani bisa mengelola sawahnya dengan baik dan terjadi konflik antar warga setempat. Selain Citarum Hulu, Citarum Hilir juga mengalami eksploitasi air tanah oleh permukiman sekitar dan pengrusakan ekosistem yang menyebabkan berkurangnya hutan mangrove untuk mencegah abrasi di Laut Jawa.

Pada Februari 2013, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) menyebutkan bahwa pada tahun ini (2018) air Citarum bisa diminum langsung. Pernyataan tersebut ditegaskan lagi pada Mei 2014 [2]. Beliau meyakini program Citarum Bestari (bersih, sehat, indah, lestari) dalam upaya membuat air Citarum bisa diminum langsung oleh masyarakat Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Pernyataan tersebut belum bisa dimaknai secara harfiah, namun bisa dimaknai sebagai do’a. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Anang Sudarna diberikan kekuasaan untuk mengupayakan pernyataan angin surge tersebut. Pengguna media sosial Facebook, Faiz Manshur menulis status seraya mengenang janji tersebut :

“Beberapa tahun lalu Gubernur Air bilang: tahun 2018 Aher di Citarum bisa diminum. Sekarang Presiden datang baru berencana pertengahan Januari 2018 pembenahan Citarum baru dimulai. Apa tidak sebaiknya saat memulai pembenahan dibuka dengan menyaksikan Pak Air Heryawan minum Aher Citarum?”

Pada 22 Februari 2018 lalu, Presiden Joko Widodo pun turun tangan mengurus permasalahan Citarum dan mendanai revitalisasi sungai pemasok air bersih Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta sebanyak Rp 1,59 triliun. Sebenarnya Pemerintah telah mengembangkan rancangan strategis mengenai program-program utama untuk meningkatkan sistem pengelolaan sumber daya air dan pemulihan kondisi Citarum terhadap pencemaran lingkungan air sejak 2006 silam. Rancangan tersebut diabadikan dalam Citarum Roadmap : Integrated Citarum Water Resources Management and Investment Program (ICWRMIP). ICWRMIP merupakan gambaran strategi, rencana dan pelaksanaan yang memetakan posisi saat ini dengan visi, hasil dan tujuan yang ingin kita capai di masa depan untuk pengelolaan terpadu sungai Citarum. Visi bersama untuk Citarum ini juga disebut sebagai CITA-CITARUM. Berdasarkan www.citarum.org, Visi Cita Citarum yakni Pemerintah dan masyarakat bekerja bersama demi terciptanya sungai yang bersih, sehat dan produktif, serta membawa manfaat berkesinambungan bagi seluruh masyarakat di wilayah Citarum.

Aksi turun tangan Presiden Jokowi mampu memperaiki kinerja Citarum Harum. Dalam pernyataan yang dilansirPikiran Rakyat (8/1/2018), Anang berdalih bahwa adanya perhatian bahkan perintah dari Presiden RI, Menko Kemaritiman dan Pangdam III/Siliwangi untuk menangani pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, tidak lepas dari hasil komunikasi Gubernur Jabar dengan Presiden, Wapres, Menko Kemaritiman, dan Pangdam dalam berbagai kesempatan. Hal ini dikarenakan sebelumnya Anang juga pernah mengungkap bahwa program Citarum Bestari telah menunjukkan keberhasilan. Pada 2015, kata dia, dari 1.500 ton sampah yang masuk Citarum setiap harinya, sudah berhasil dikurangi 50 persen. Sementara itu Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Jawa Barat, Dadan Ramdan, saat peringatan Hari Citarum tahun lalu mengungkap data, bahwa dana sebesar Rp 4,5 triliun sebelumnya telah dihambur-hamburkan dalam berbagai proyek Citarum, namun toh masih belum mampu juga memulihkan kondisi sungai ini.

Gambar 3. Aksi Citarum Harum oleh 10 komunitas di Karawang, Bekasi

Demi mendukung program Citarum Harum, 10 komunitas di Karawang menanam 1000 pohon bambu dan penebaran 10.000 bibit ikan pada 15 Mei 2018 lalu. Koordinator kegiatan, Purwo, menyatakan bahwa kegiatan pemulihan Sungai Citarum tersebut dilakukan sebagai langkah dukungan terhadap pemerintah dalam melestarikan Sungai Citarum. Aksi tersebut diikuti oleh ratusan orang dari Komunitas Pejuang Lingkungan Indonesia, Buas Macan Citarum, Forkadasc, Formapi, Siber, Karawang Guyub, Cikampek Bersatu, serta TNI dan Polri itu dilakukan di Dusun Leuwigoong, Desa Cimahi, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Dengan adanya aksi tersebut, diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai sanitasi lingkungan menjadikannya sebagai pioneer dalam pelestarian sungai.

Sampai di Citarum dapat dibersihkan melalui sistem pemberdayaan lingkungan dengan membentuk tim khusus yang diberi tanggung jawab untuk membersihkan sungai per sekian kilometer serta diberi fasilitas pos khusus atau bahkan rumah dinas. Lalu, di pinggir Sungai Citarum dilakukan penghijauan dengan kriteria jenis pohon tertentu seperti yakni berakar keras dan berbatang keras agar mampu menahan pergerakan tanah. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi erosi dan sebaiknya jika sudah tumbuh tidak boleh ditebang, apalagi dijadikan bahan bangunan. Lalu dengan pembuatan permukiman terpadu berupa desain perkampungan khusus untuk daerah bantaran sungai. Rumah di kawasan itu harus dibangun dengan arsitektur “julang ngapak”, yakni rumah panggung dengan ketinggian memadai dari atas tanah serta memiliki nilai manfaat strategis. Selain tahan gempa, juga tidak akan terkena dampak kerusakan saat banjir melanda. Desain arsitektur berkarakter ‘julang ngapak’ ini telah sukses bertahan selama ratusan tahun di Kampung Naga, Tasikmalaya dan Kampung Kanekes, Banten. Dengan peninggian rumah dan terletak agak jauh dari bantaran sungai. Arsitekturnya julang ngapak, rumah panggung dan pakai ijuk. Kalau banjir datang, tidak akan sampai merendam rumah.

Komandan Sektor IV Citarum Harum Kolonel Sutomo menyarakan para pengusaha mengolah limbah menggunakan mikroba, seperti pengolahan limbah kotoran sapi dari peternak sapi di sekitar Citarum. Alternatif ini mampu menormalisasi Sungai Citarum yang tercemar merkuri dan logam yang dihasilkan dari limbah. “Untuk menormalisasi tentunya harus ada proses, ada Pak Joko yang menggunakan bakteri ramah lingkungan, maka kita uji coba. Hasilnya nanti kami kirimkan ke pihak berwenang seperti lingkungan hidup dan Polda. Silahkan yang berwenang yang akan tentukan,” tuturnya di Makodam III Siliwangi, Kota Bandung,Jumat 23 Maret 2018 silam. Selain itu, pemilik Bio Alam Lestari yang merupakan perusahaan pengolahan limbah dengan mengunakan mikrobiologi, Joko Sri Wisnu Murti, menuturkan bahwa dengan menggunakan mikrobiologi dapat memangkas biaya pengolahan limbah 40 persen dibanding pengelolaan seperti biasanya yang menggunakan kimia. Menurutnya, pengolahan limbah yang menggunakan bahan kimia, pengusaha pabrik seperti tekstil dan lainnya dapat mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk mengolah limbah mereka. Biasanya pengeluaran itu tergantung dari banyaknya limbah yang dikeluarkan. “Pabrik itu mengeluarkan dana untuk instalasi pengelolaan limbah kimia perhari perkiraan Rp 34 juta. Dengan mikrobiologi dipangkas 40 persen dari pengeluaran itu,” katanya. Mikrobiologi yang dikeluarkan sendiri merupakan fermentasi dari urine sapi yang diambilnya dari para peternak sapi. Mikrobiologi ini akan mendegradasi polutan yang dihasilkan limbah, di mana dengan mikrobiologi yang dimilikinya limbah yang dikeluarkan terbebas dari serat yang juga merupakan B3. “Mikrobiologi mendegradasi polutan tadi. Untuk hasil akhir kami tak menghasilkan serat,” jelas pemilik perusahaan Bio Alam Lestari. Langkah ini merupakan alternatif ramah lingkungan dan ramah kantong karena pemanfaatan limbah organik dalam bentuk reuse, reduce, dan recycle.

Gambar 4. Sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia pada 2007

Leave a Reply

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!